Selasa, 01 Maret 2011

PEMBENIHAN IKAN NILA

PEMBENIHAN IKAN NILA ( Oreochromis sp.)

I. PENDAHULUAN
Ikan nila (Oreochromis sp.) merupakan salah satu komoditas perikanan yang sangat populer di masyarakat. Karena selain harganya murah, rasanya enak, juga kandungan proteinnya cukup tinggi sehingga sangat membantu dalam program Usaha Peningkatan Gizi Keluarga (UPGK). Ikan nila berasal dari benua Afrika dan pertama kali di datangkan ke Indonesia pada tahun 1969. Karena memiliki berbagai kelebihan dibanding jenis-jenis ikan lainnya, menjadikan ikan nila mudah sekali diterima oleh masyarakat dan dalam waktu yang singkat sudah menyebar ke seluruh pelosok tanah air. Kelebihan tersebut diantaranya :
 Mudah berkembang biak.
 Sangat tahan terhadap perubahan lingkungan
 Tahan terhadap serangan penyakit
 Pemakan segala (omnivora)
Saat ini ada dua jenis ikan nila yang beredar di Indonesia, yaitu :
1. Nila hitam (T.69, Citralada, GIFT)
2. Nila merah (hibrida)

II. SISTEMATIKA
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Acanthopterigii
Suku : Cichlidae
Marga : Oreochromis
Species : Oreochromis sp.

 Badan memanjang, bentuk tubuh pipih, sisik besar dan kasar, kepala relatif kecil, garis linealateralis terputus dan terbagi dua, yaitu bagian atas dan bawah, memiliki 5 buah sirip dengan rumus D.XVI.12;C;U.I.5;P.12. dan A.III.9.
 Nila banyak ditemukan di perairan yang airnya tenang, seperti danau, rawa dan waduk. Toleransi terhadap lingkungan sangat tinggi, dapat hidup pada salinitas 0 s/d 29 promil, suhu 14 s/d 38° C dan pH 5 s/d 11.
 Nila termasuk ikan omnivora dan sangat menyenangi pakan alami berupa Rotifera, Daphnia sp., Moina sp. benthos, ferifiton dan fitoplankton. Disamping itu, bisa juga diberi pakan tambahan, sperti pellet, dedak dan lain-lain.
 Nila termasuk ikan yang dapat memijah sepanjang tahun dan mulai memijah pada umur 6 s/d 8 bulan. Seekor induk betina ukuran 200 s/d 400 gram dapat menghasilkan anak 500 s/d 1.000 ekor.
 Untuk membedakan induk jantan dan betina disa dilihat dari bentuk tubuh, warna dan alat kelaminnya. Tanda-tanda tersebut:

Jantan :
 Warna tubuh cerah dan memiliki satu buah lubang kelamin yang bentuknya memanjang dan berfungsi sebagai tempat keluarnya sperma dan air seni.

B. Intensif
 Pemijahan dilakukan dalam bak semen/hapa ukuran dan luas 24 s/d 48 m2 dan kedalaman air 60 s/d 80 cm.
 Induk ditebar bersama-sama dengan kepadatan 3 s/d 4 ekor/m2. Perbandingan antara jantan dan betina 1:3.
 Berbeda dengan pembenihan ekstensif, pada pembenihan intensif yang dipanen dari tempat pemijahan bukan larva, tetapi masih dalam bentuk telur. Ini dilakukan setiap 10 hari. Disamping itu benih-benihnya dibuat monosex, yaitu jantan atau betina, tergantung kebutuhan.
 Telur yang dipanen biasanya ada 4 fase, yaitu telur utuh, sudah bermata, sudah bermata dan berekor serta larva sempurna. Setiap fasenya, ditampung dalam wadah yang berbeda-beda.
 Telur-telur tersebut kemudian ditetaskan adalah wadah khusus corong penetasan dibuat dari fibreglass, kain trilin dan plastik (corong minyak tanah). Corong penetasan tersebut diberi aliran air agar telurnya bisa bergerak, atau berupa akuarium.
 Biasanya telur-telur ini akan menetas dalam waktu 3 s/d 7 hari. Telur yang tidak menetas berwarna putih dan telur-telur tersebut hams dibuang setiap hari, dengan cara disiphon.
 Dua hari setelah menetas larva dipindahkan ke bak tembok (2 X 1X 0,5) m3 atau hapa ukuran (2 X 1 X 0,5) m3 yang dipasang di kolam secara berderet. Dalam satu hapa bisa ditebar larva sebanyak 2.000 s/d 4.000 ekor dan dipelihara 25 s/d 30 hari.
 Selama dalam hapa atau bak diberi pakan berupa pellet halus yang sudah diberi hormon Alpha Methyl Testosteron, dosis pakan 30% per hari pada awal pemeliharaan, kemudian menurun sampai 12%.

Cara membuat pakan berhormon :
a. Timbang pellet halus sebanyak 1 kg.
b. Timbang hormon 17 Alpha Methyl Testosteron (60 mg/1 kg pakan).
c. Larutkan hormon tersebut dalam alkohol 90% sebanyak 25 ml, aduk sampai homogen. Kemudian tambahkan pula alkohol 70% sebanyak 300 s/d 400 ml dan aduk pula sampai homogen.
d. Masukkan larutan tersebut dalam pakan dan aduk sampai rata. Kemudian diangin-anginkan sampai kering (jangan di jemur).
e. Bila sudah kering, bisa langsung diberikan. Agar awet, masukkan pakan tersebut dalam plastik dan disimpan dalam kulkas. Pakan ini tahan sampai 3 bulan.
f. Larva yang diberi pakan harus berukuran panjang total ≤ 13 mm.

 Selain melalui pakan, .pengubahan kelamin dapat juga dilakukan melalui perendaman. Larva tersebut direndam dalam larutan hormon 17 Alpha Methyl Testosteron selama 10 s/d 12 jam.

IV. Pendederan
 Pendederan ikan nila dilakukan dikolam yang luasnya antara 500 s/d 1.000 m2. Namun kolam tersebut harus disiapkan seminggu sebelum penebaran benih. Persiapan meliputi pengeringan, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar dan pembuatan kemalir.
 Setelah itu kolam dikapur dengan kapur tohor sebanyak 100 s/d 200 gr/m dan dipupuk dengan pupuk organik dengan dosis 500 gr/m2.
 Bila kolam sudah siap, larva ditebar pada pagi hari dengan kepadatan 100 s/d 200 ekor/m2.
 Setiap hari diberi pakan tambahan berupa pellet halus atau dedak sebanyak 750 gr/10.000 ekor larva dan diberikan 3 kali per hari.
 Pemeliharaan di kolam pendederan berlangsung selama 3 s/d 4 minggu.
◄ Newer Post Older Post ►