Rabu, 16 Maret 2011

Burung Sikatan Aceh (Cyornis ruckii) Burung Misterius



Burung Sikatan Aceh atau Cyornis ruckii memang misterius. Sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1917 dan 1918 burung Sikatan Aceh tidak sekalipun pernah dijumpai kembali hingga kini. Burung Sikatan Aceh atau Rueck’s Blue-flycatcher (Cyornis ruckii) hanya dikenal dari dua spesimen yang ditemukan pada tahun 1917 dan 1918.
Karena tidak pernah ditemukan kembali hingga hampir seratus tahun, burung Sikatan Aceh oleh IUCN Red List dikategorikan sebagai Critically Endangered (Kritis). Dan termasuk satu dari 18 burung paling langka di Indonesia.
Burung Sikatan Aceh dalam bahasa Inggris disebut sebagai Rueck’s Blue-flycatcher atau Rueck’s Niltava. Sedangkan dalam bahasa latin (ilmiah) burung misterius yang diduga endemik Sumatera ini dinamai Cyornis ruckii.
Burung ini dikenal dari 4 awetan (spesimen) yang ditemukan oleh seorang Belanda bernama August van Heijst pada tahun 1918, di daerah Tuntungan (sekarang wilayah kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan, Sumatera Utara) dan yang ditemukan pada tahun 1917 di Delitua (Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara). Dua spesimen meskipun didapatkan di Malaysia namun diduga hasil tangkapan dari Sumatera. Spesimen ini disimpan di Paris dan Leiden.

Diskripsi Burung Sikatan Aceh.
Burung Sikatan Aceh berukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 17 cm. Bulunya didominasi bulu berwarna biru. Pada burung jantan, kepala, tenggorokan, dan dada biru sedangkan tunggir dan penutup ekor atas biru berkilap. Burung betina tubuh bagian atasnya berwarna coklat-merah bata dengan tunggir dan ekor merah bata serta dada merah karat hingga keputih-putihan pada perut.
Sebagaimana jenis sikatan lainya, burung ini merupakan pemakan serangga yang menangkap mangsanya saat terbang di udara. Diskripsi lainnya mengenai burung ini seperti kebiasaan dan musim kawin serta suara kicauan, tidak diketahui dengan pasti.
Habitatnya diduga berasal dari hutan sekunder di daerah dataran rendah. Bahkan kuat dugaan burung ini merupakan burung endemik Sumatera yang tidak terdapat di daerah manapun juga.

Sikatan Aceh Burung Misterius.
Misteri burung Sikatan Aceh bukan sekedar lantaran tidak pernah ditemukan kembali sehingga data-data yang ada tidak komplit. Namun juga lantaran penamaan burung ini dalam bahasa Indonesia yang memakai nama “Aceh”, padahal burung ini ditemukan di Medan, Sumatera Utara. Kenapa namanya Sikatan Aceh bukannya Sikatan Medan?.
Belum cukup misterius, burung Sikatan Aceh (Cyornis ruckii) diyakini berkerabat dekat dengan Sikatan Hainan (Cyornis hainana) yang terdapat di China.
Meskipun tidak pernah ditemukan kembali hingga hampir seratus tahun, namun IUCN Red List dan birdlife belum berkehendak untuk menyatakn burung ini punah. Burung Sikatan Aceh (Cyornis ruckii) dikategorikan sebagai Critically Endangered (kritis) sejak tahun 2000. CITES juga masih mengategorikannya dalam daftar Apendiks II. Anehnya, dalam lampiran PP No 7 Tahun 1999 burung ini tidak terdapat dalam daftar hewan yang dilindungi.
Burung Sikatan Aceh atau Rueck’s Blue-flycatcher menambah daftar burung misterius di Indonesia yang hingga puluhan tahun tidak pernah ditemukan kembali. Selain Sikatan Aceh, burung-burung yang keberadaan tetap misterius hingga sekarang adalah Trulek Jawa (Vanellus macropterus) yang terakhir kali terlihat pada 1940.
Semoga saja Sikatan Aceh ini seperti burung Tokhtor Sumatera (Carpococcyx viridis) yang pernah dianggap punah lantaran tidak pernah dijumpai sejak 1916, namun pada 1997 tiba-tiba muncul bahkan berhasil didokumentasikan gambarnya.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Aves; Ordo: Passeriformes; Famili: Muscicapidae; Genus: Cyornis; Spesies: Cyornis ruckii.
◄ Newer Post Older Post ►