Jumat, 18 Maret 2011

Semangat Bangkit Orang Jepang Luar Biasa

Seorang pria melihat puing-puing yang dihanyutkan tsunami dan sawah yang tertutup oleh lumpur di Sendai, Miyagi Prefecture, Sabtu pagi, 12 Maret 2011 setelah gempa terbesar yang pernah ada dicatat menghempas pantai timur Jepang pada Jumat lalu.

Seorang pemuda memakai kacamata membagikan ramen, mi rebus, kepada beberapa orang di tempat penampungan korban tsunami. Oleh wartawan TV ditanya dari grup relawan mana. Pemuda itu menjawab, “Bukan. Volunteer. Saya memang penduduk sini dan pekerjaan saya memang menjual ramen. Rumah dan warung saya juga hilang dan tidak ada lagi. Akan tetapi, saya tidak sendirian. Oleh karena itu dalam keadaan sekarang kita bersama-sama melakukan apa yang bisa dilakukan untuk membangun kembali”.

Demikian laporan Sapto Nugroho, warga Indonesia di Jepang yang menulis untuk media sosial Kompasiana. Berikut laporan lengkapnya...

Bukan tangis dan ratapan yang ditunjukan, tetapi semangat untuk bangkit kembali karena menyadari yang mengalami musibah kehilangan rumah dan pekerjaan bukan dia sendiri.

Dua orang bapak berdiri di atas bukit kecil, memandang ke bawah, ke kota kecil yang sekarang sudah tidak ada lagi rumah yang berdiri. Dia menunjukkan lokasi rumahnya dulu. Tampak bahwa tidak hanya rumah yang hilang, tapi juga “kota” atau “kampung” semua hilang ditelan tsunami. Semangat tetap tecermin dalam diri bapak-bapak itu karena mereka merasa tidak sendirian.

Sejumlah mahasiswa asal Jepang di Yogyakarta, dibantu sejumlah mahasiswa Universitas Gajah Mada jurusan Bahasa Jepang, Rabu (16/3/2011) turun ke jalan untuk menggalang dana bagi korban gempa dan tsunami di Jepang.
Ada teman saya di Kanada bertanya: “Jepang kan negara donor, kenapa kok mengumpulkan dana juga dari masyarakatnya?” Mungkin jawabnya adalah bukan pada jumlah uang yang berhasil dikumpulkan, tetapi lebih pada rasa setia kawan atau rasa kebersamaan sebagai satu negara/bangsa sehingga ingin berbuat sesuatu. Rasa bersama inilah yang ada dalam setiap diri orang jepang. Rasa ini menjadi semangat bagi orang yang ditimpa bencana sehingga bisa bangkit lagi. Ada juga artikel yang dimuat di Kompas.com, mahasiswa atau mahasiswi jepang di Yogya mengumpulkan dana dari orang yang lewat di jalan (dengan pakaian Jepang). Tentu saja gerakan ini kalau dilihat jumlahnya tidak banyak, tapi “arti” dari yang dia lakukan itu cukup besar bagi dia sendiri dan bagi bangsanya. Ada rasa kesatuan sehingga tidak merasa sendirian dalam menghadapi bencana.
Mungkin jawabnya adalah bukan pada jumlah uang yang berhasil dikumpulkan, tetapi lebih pada rasa setia kawan atau rasa kebersamaan sebagai satu negara/bangsa sehingga ingin berbuat sesuatu.
Pengungsi berdiri di sekitar Shinjuku Central Park di Tokyo Jepang 11 Maret 2011. Sebuah gempa dahsyat berkekuatan 8,9 menghantam timur laut Jepang pada hari Jumat, menyebabkan banyak luka, kebakaran dan tsunami 10 meter (33 feet) di sepanjang bagian garis pantai. Sebuah peringatan tsunami telah dikeluarkan untuk cekungan Pasifik kecuali daratan Amerika Serikat dan Kanada setelah gempa bumi besar yang melanda Jepang pada hari Jumat, demikian diungkapkan the Pacific Tsunami Warning Center.
Pada hari ke-5 setelah gempa, yaitu tanggal 16 Maret 2011, transportasi utama di Tokyo untuk orang bekerja sudah normal. Ini juga berkat kerja sama antara TEPCO (perusahaan penyedia listrik), perusahaan kereta, dan Kementrian Transportasi. Memang kekurangan pasokan listrik masih ada. Akan tetapi, pengaruh ke kegiatan utama di perkantoran sedapat mungkin di kurangi supaya roda ekonomi tidak terlalu terganggu. Berkat kerja sama tiga instansi ini, di waktu orang berangkat dan pulang kerja, jumlah dan jadwal kereta semua normal. Artinya sama seperti sebelum gempa. Dengan demikian, orang berangkat dan pulang kerja seperti biasa. Jumlah kereta yang dikurangi adalah jam-jam tidak sibuk, yaitu jam 10 pagi sampai jam 6 sore. Suatu langkah penanganan yang juga berlandaskan semangat tidak sendiri, tapi bersama-sama mengatasi masalah.
MUNICH - Mengheningkan cipta sejenak di bench Nerazzurri.
UEFA Champions League, Bayern 2 - 3 Inter. (16/03/2011)
Yuto Nagatomo: "You'll Never Walk Alone."
UEFA Champions League (16/03/2011)
Semangat bahwa tidak sendiri ini juga tampak jelas ditunjukan oleh pemain sepak bola asal Jepang, Nagatomo, yang bermain untuk klub Eropa Inter Milan. Sebelum pertandingan, semua pemain dan penonton berdoa untuk Jepang. Setelah pertandingan, Nagatomo memegang bendera Jepang bertuliskan dalam bahasa Jepang dan juga bahasa Inggris: "You will never walk alone." Sementara di layar TV dituliskan dalam bahasa Jepang, Sora ha tsunagatteiru node (kimochi ha ) tsunagaru to omoimasu (Langit itu bersambungan/tidak terpisah, maka perasaan juga bisa tersambung).

Ada satu ungkapan yang sudah diajarkan sejak anak TK ,SD, sampai dewasa, yaitu, chikara o awaseru, yang berarti kita bersama-sama menggalang kekuatan. Kalau sendirian tidak akan bisa, tetapi kalau bersama-sama kita susun kekuatan maka kita akan bisa melakukannya.

*Sapto Nugroho, Jumat, 18 Maret 2011 | 08:30 WIB.

Headline koran Bild menampilkan sebuah artikel dengan foto di bawahnya terlihat seorang ibu menangisi putrinya yang tertimbun reruntuhan di bawahnya.
Seorang anak membawa botol air di tengah puing-puing di Kesennuma, utara Jepang Senin, 14 Maret 2011 setelah terjadinya gempa bumi besar Jumat dan tsunami berikutnya. (AP Photo / Kyodo News)
Wanita ini tidak berhenti menangis ketika berbicara dengan kerabatnya, di Miyako, provinsi Iwate.
Bagaimana kira-kira perasaanmu jika menemukan tangan di reruntuhan yang ternyata adalah ibu-mu?
Hiromitsu Shinkawa, kakek berusia 60 tahun, warga kota Minamisoma, Prefektur Miyagi, Jepang timur laut melambaikan tangan untuk meminta tolong. Ia terseret 15 kilometer ke laut lepas. Setelah dua hari, tepatnya Minggu (13/3/2011), ia ditemukan dalam keadaan selamat dan sehat.
"Smile" ^^

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

We prays for the people of Japan. World have prays for Japan..
We weep with your people in Japan
We hear the cries of orphaned children and laments of bereaved parents
We feel the desperation of those searching for loved ones
We behold the silence of vanished villages.
We see the devastation.
We are overwhelmed by the enormity of it all.
Our hearts are hushed, our minds are numb.
Let not our hands be stopped, our voices dumb.
God of the universe,
Open our hearts to feel your compassion
Galvanize in us the act of continued giving
Bond us to our sisters and brothers in need
Comfort and heal the injured, the bereaved, the lost
Strengthen the aid workers and medical personnel
Bolster the resolve of governments and those with power to help
Open through this tragedy pathways to partnerships and peace
In Your Name of mercy and healing and compassion we pray,
Amen....!

Foto-foto tsunami populer yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan Tsunami Jepang:

Foto populer stunami yang sebenarnya adalah salah satu scene dari film "Cina" "Aftershock". Bukan dari bencana mengerikan yang telah terjadi di Jepang. Mereka tidak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang terjadi sekarang di Jepang.


..
◄ Newer Post Older Post ►