Senin, 14 Maret 2011

Umat Beragama di Kepri Jaga Toleransi

BATAM – Masyarakat Batam Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang berasal dari berbagai suku dan agama di Indonesia diketahui sangat menjaga toleransi, sehingga tidak ikut terpancing melakukan keribukan paska konflik bernuansa SARA yang terjadi di berbagai daerah saat ini.



Ketua Fraksi PDI-P DPRD Kota Batam, Nuryanto mengatakan, Masyarakat Batam yang terdiri dari beragam etnis dan keyakinan sangat menjaga toleransi sehingga konflik antar umat beragama dan suku bangsa dapat dihindari. Kondisi itu juga dipicu dengan sikap warga Batam yang senantiasa waspada terhadap provokasi dan hasutan yang hanya meruntuhkan sendi-sendi kebinekaan bangsa.

Untuk menjaga toleransi, warga Batam juga telah membentuk Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dan wadah- wadah lain sebagai sarana untuk saling berkomunikasi. Lembaga itu cukup efektif untuk menghilangkan potensi gesekan yang terjadi di masyarakat.

Peran tokoh agama di Batam juga cukup kuat dengan mengaplikasikan ajaran agama dalam kehidupan mereka sehari hari sehingga di ikuti oleh umatnya.

Sementara itu, Kepolisian Resort (Polres) Karimun Provinsi Kepri mengadakan pertemuan dengan para tokoh agama di Kabupaten Karimun, Kamis (10/2) yang dihadiri para tokoh agama.

Wakapolres Karimun, Kompol Agus Yulianto mengatakan, acara tersebut diselenggarakan dalam rangka mempererat hubungan silaturahmi antar pemeluk agama di Kabupaten Karimun guna menanggapi situasi keamanan yang kian memanas sejak beberapa hari terakhir di berbagai daerah di Indonesia.

Anggota DPRD Provinsi Kepri, Surya Makmur Nasution mengatakan, peristiwa konflik yang mengatasnamakan agama dengan tindakan kekerasan adalah budaya barbarisme.

“Tak satu pun agama menolerir tindakan kekerasan mengatasnamakan agama terhadap siapa pun, hanya karena perbedaan pemahaman dan keyakinan,” katanya, Rabu (9/2).

Terlebih, sebagai Kitab Suci Agama Islam yang dianut mayoritas masyarakat Indonesia, Al Quran begitu indah memberi pesan pentingnya dialog dengan kasih sayang dalam membahas perbedaan.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batam memperingatkan penganut Ahmadiyah di wilayah Batam untuk berhati-hati bersikap agar tidak terjadi kekerasan seperti di daerah lain.

"Kejadian kekerasan yang terjadi di berbagai daerah terkait kasus Ahmadiyan bukan tidak mungkin terjadi di Batam," kata Ketua MUI Batam Usman Ahmad, Rabu (9/2). Terlebih di Batam terdapat sekitar 70 orang penganut Ahmadiyah yang berada di daerah Winsor.

Usman minta penganut Ahmadiyah di Batam tidak menyebarkan ajarannya kepada muslim Batam agar tidak menyulut amarah warga dan mematuhi surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri terkait keberadaan Ahmadiyah.

Untuk itu, MUI Batam berkoordinasi dengan petugas satuan intelijen untuk mengetahui gerak-gerik penganut Ahmadiyan Batam.

Usman juga meminta pemerintah mempertegas SKB tiga menteri karena ketidaktegasan membuat ketegangan antara umat muslim dengan Ahmadiyah.

"Sebaiknya dilarang atau disahkan menjadi agama baru saja," kata dia.

Jika Ahmadiyah dinyatakan sebagai agama baru, maka umat muslim tidak akan mengganggu asalkan jangan mengutak-utik Al Quran.

Menurutnya, penyerangan terhadap para pemeluk Ahmadiyah telah terjadi berulang kali didasari alasan Ahmadiyah sebagai aliran sesat. (gus).

◄ Newer Post Older Post ►